Mengenal NFC

Teknologi digunakan untuk mempermudah pekerjaan manusia, mempercepat suatu pekerjaan atau menyingkat suatu proses yang panjang. Begitu juga dengan teknologi NFC atau Near Field Communication. Barangkali sebagian dari masyarakat umum sudah pernah menggunakan NFC seperti salah satu contohnya pada Telkomsel T-CASH untuk pembayaran tanpa uang tunai. Ataupun ketika menggunakan kartu akses masuk apartemen, membayar dengan e-money dan banyak contoh lainnya. Hal ini tentu sangat berkaitan dengan kuliah komputasi bergerak dimana komputasi ada dimana-mana dan orang-orang tidak sadar bahwa ada komputasi di dalam prosesnya. Di makalah ini akan dibagi menjadi 4 bagian, dimulai dengan apa itu NFC, prinsip kerjanya, NFC untuk everywhere computing, serta penggunaannya di Indonesia dan Potensinya ke depan.

Apa itu NFC

Seperti dengan namanya, Near Field Communication adalah teknologi untuk menunjang komunikasi data jarak dekat. Komunikasi NFC tentu saja nirkabel menggunakan gelombang radio seperti halnya RFID pada kuliah sebelumnya, WiFi, Bluetooth, Infra red dan lain sebagainya. Walaupun sama-sama nirkabel, belum tentu memiliki cara kerja yang sama. Pada dasarnya cara kerja NFC hampir sama dengan RFID, namun bekerja di jarak dekat dan bekerja di frekuensi 13,56MHz.

Karena memiliki fitur berkomunikasi data dengan jarak dekat, maka sering kita jumpai NFC digunakan untuk grant access (memberikan akses masuk) seperti untuk membuka dan mengunci pintu di hotel, apartemen, kantor. Di beberapa kasus memang diperlukan untuk membuka pintu dari jarak dekat seperti pintu versi mekanik, hal ini cocok sekali menggunakan NFC.

NFC juga umumnya digunakan untuk melakukan komunikasi data antara 2 perangkat saja. Seperti halnya dari smartphone ke NFC-Tag. Nah, dari sini kita barangkali sedikit bingung dengan apa itu NFC. Karena teknologi ini bisa ada di smartphone dimana di dalamnya terdapat berbagai komponen seperti komputer, dan NFC yang ada di sebuah tag yang menyerupai tempelan seperti sticker biasa namun sedikit tebal.

Hal ini karena seperti halnya RFID, perangkat NFC terbagi menjadi dua yaitu perangkat aktif dan perangkat pasif. Hal utama yang membedakannya adalah adanya sumber daya pada perangkat tersebut atau tidak. Tentu dari paragraf sebelumnya kita bisa langsung memahami bahwa smartphone merupakan perangkat NFC aktif dan Tag merupakan perangkat NFC pasif. Perangkat NFC pasif ini tidak hanya berupa tag lingkaran seperti halnya Telkomsel T-Cash, namun juga bisa berupa kartu seperti uang elektronik di indonesia, papan iklan, atau benda-benda lainnya. Untuk lebih lanjut tentang prinsip kerja keduanya akan dibahas pada bab ke II di makalah ini.

(Gambar 1.1 Contoh NFC. sumber: square.com)

Komunikasi data NFC ini bisa antara perangkat aktif dan pasif maupun perangkat aktif dan aktif. Tidak pernah dijumpai komunikasi data antara perangkat NFC pasif dengan pasif karena syarat kedua perangkat berkomunikasi harus memiliki daya. Perangkat pasif walaupun tidak memiliki sumber daya sendiri seperti halnya baterai, perangkat ini memiliki koil sebagai antena penerima. Koil ini yang berfungsi untuk induksi elektromagnetik sebagai sumber daya perangkat pasif NFC. Perangkat aktif NFC dapat mengirimkan sinyal elektromagnetik yang kemudian diterima koil tersebut. Prinsip ini bukanlah sesuatu hal yang baru karena induksi medan magnet telah ditemukan oleh Michael Faraday pada abad ke 19.

Komunikasi antar perangkat menggunakan NFC jika kita bayangkan komunikasinya berupa 2 arah namun tidak selalu demikian. Komunikasinya juga bisa 1 arah saja. Komunikasi 2 arah seperti ketika NFC digunakan untuk bertukar kontak telepon, bertukar file, gambar, link, dan lain sebagainya. Jika komunikasinya berupa 1 arah, contohnya seperti smartphone membaca nfc-tag. Tidak hanya “read” saja namun juga “write”. Jadi isi dari Tag yang pasif tersebut dapat diubah dengan perangkat aktif NFC.

Pada contoh kasus lain, seperti halnya transaksi non-tunai ada istilah bernama “card emulation mode” pada perangkat aktif seperti smartphone maupun perangkat wearable seperti Apple Watch. NFC perangkat aktif ini dapat berfungsi sebagai perangkat pasif seperti tag ataupun kartu e-money. Namun syaratnya perangkat yang membaca harus perangkat aktif.

Kurang lebih seperti itulah tentang apa itu NFC pada bab ini. Namun barangkali pembaca masih terbayang-bayang teknologi nirkabel lain seperti Bluetooth, RFID, ataupun QR Code karena beberapa use case dapat menggunakan teknologi nirkabel selain NFC. Pada Bluetooth tantangannya adalah waktu yang digunakan untuk “pairing” karena syarat utama Bluetooth dalam melakukan komunikasi data adalah pairing terlebih dahulu. Sedangkan NFC, ketika perangkat itu dekat, kurang lebih 4 centimeter, maka komunikasi dapat dilakukan.

Pada RFID kurang lebih sama seperti NFC namun bedanya RFID dapat bekerja di frekuensi rendah (LF), tinggi (HF), dan ultra tinggi (UHF). Sedangkan NFC hanya frekuensi tinggi saja HF. Namun, ketika yang anda perlukan adalah komunikasi jarak dekat, tentu NFC lebih dapat diandalkan. Seperti paragraf sebelumnya, ketika buka pintu namun pintunya adalah pintu garasi misalnya yang harus dibuka dengan jarak jauh dari dalam mobil. Maka RFID lebih dapat diandalkan.

Beberapa contoh penggunaan seperti berbagi link tentu sudah banyak kita temui menggunakan QR Code. Tentu saja QR Code sama seperti halnya dengan perangkat pasif NFC, namun membutuhkan kamera dan relatif kurang aman karena lebih mudah dimanipulasi. Maksud saya ketika QR Code itu ditumpuk dengan QR Code yang lain, maka yang dibaca adalah QR Code paling atas. Berbeda dengan NFC Tag yang pasif, ketika ditumpuk, keduanya tidak dapat dibaca.

Prinsip Kerja

Komunikasi yang digunakan NFC adalah gelombang elektromagnetik. NFC memiliki antena yang dapat menghasilkan gelombang elektromagnetik maupun menerima gelombang tersebut. Pada perangkat aktif yang memiliki NFC, antena tersebut dapat ditemui pada bagian case belakang smartphone atau pada lapisan baterainya. Contoh dari antena tersebut ada pada gambar 2.1.

(Gambar 2.1 NFC di dalam perangkat smartphone)

Jika gambar 2.1 adalah gambar NFC pada perangkat aktif, bagaimana pada perangkat pasif seperti halnya tag, kartu dan sebagainya. Dapat kita lihat pada gambar 2.2, perangkat NFC pasif tidak menggunakan baterai. Umumnya hanya menggunakan koil dan 1 chip. Untuk bodinya bisa bermacam -macam, bisa berupa gantungan kunci, tempelan stiker, kartu dan lain-lain.

(Gambar 2.2 Perangkat NFC pasif, sumber: adafruits.com )

(Gambar 2.3 Cara kerja perangkat NFC aktif ke pasif. Sumber: All About Electronics)

Membayangkan proses cara kerja NFC aktif ke aktif kurang lebih seperti halnya perangkat nirkabel lainnya. Namun yang membuat NFC spesial adalah hadirnya perangkat pasif yang dapat berkomunikasi dengan perangkat aktif. Kurang lebih dapat kita lihat pada gambar 2.3.

Chip dari NFC Pasif ini ternyata berisi clock, EEPROM, rectifier, dan controller. Awalnya gelombang elektromagnetik yang dipancarkan perangkat aktif akan diterima koil. Gelombang tersebut menimbulkan emf atau voltase pada sumbu perangkat pasif. Karena suatu gelombang umumnya berupa sinus atau cosinus, sedangkan tipe daya yang dibutuhkan oleh chip rata-rata adalah DC maka sinyal tersebut diterima rectifier untuk diarahkan menjadi listrik DC. Daya itulah yang digunakan untuk menghidupkan chip di NFC tag ini.

Setelah perangkat pasif memiliki daya, maka perangkat pasif ini merespon kembali perangkat NFC aktif melalui teknik modulasi beban. Jadi perangkat pasif ini menggunakan clock untuk menimbulkan auxiliary-carrier frequency pada 848MHz. Tergantung isi pada chip isinya apa, maka proses terakhir adalah merespons sesuai dengan isi data pada chip tersebut dengan on-off pada load. Secara singkat perangkat pasif menerima daya dari proses induksi elektromagnetik lalu meresponsnya dengan modulasi beban ke perangkat aktif.

NFC untuk Komputasi Dimanapun

NFC adalah teknologi yang menarik namun belum terlalu digarap secara serius oleh banyak industri. NFC sudah hadir sejak lama, namun teknologi ini diprediksi oleh media luar negeri TheNextWeb sebagai teknologi yang akan populer di 5 tahun ke depan. Kaitan antara NFC dan everywhere computing sangat dekat. Karena NFC bekerja dengan mudah, hanya dengan disentuhkan maka hadirnya suatu komputasi pada berbagai benda, dimana pun, kapan pun dan dengan format apapun dapat dicapai. Setiap orang dapat berinteraksi dengan komputer yang mana merupakan benda yang berbeda-beda seperti kulkas, kendaraan, helm dan lain sebagainya melalui media NFC yang seamless ini.

Potensi NFC tidak hanya sekedar membaca data pada suatu tag atau saling memindahkan data saja. Aplikasi dari NFC seperti yang saya tulis di 2 bab sebelumnya antara lain adalah “grant access” sebuah pintu bangunan, pembayaran non tunai, atau media interaktif. Namun proses di belakangnya jika kita eksplorasi lebih lanjut terdapat suatu komputasi.

Saya belum menemukan referensi apakah kartu e-money kita sekarang uangnya ada di dalam kartu atau di server bank masing-masing, oleh karena itu sebagai contoh kita misalkan saja ada produk kartu e-money X yang ber-NFC serta nominal uangnya disimpan di bank.

Seseorang yang menggunakan kartu e-money tersebut ketika ingin naik transportasi umum, terlebih dahulu harus menyentuhkan kartu itu di mesin pintu masuk. Ketika orang tersebut menyentuhkannya, terdapat komputasi. Mesin tersebut request data ke server bahwa kartu e-money X milik bapak Y ini sedang digunakan untuk transaksi tiket transportasi umum.

Server disana tentu check berapa nominal uang pak Y terlebih dahulu, apabila cukup maka server mengurangi jumlah uang dengan harga tiket. Lalu server meresponsnya dengan suatu data, “ok”. Setelah itu Mesin yang melakukan request tadi melakukan response dengan membuka palang pintunya. Tidak hanya palang pintu di stasiun tersebut saja, tapi beberapa palang pintu lainnya juga. Inilah yang menurut saya merupakan komputasi bergerak dengan NFC sebagai trigger awalnya.

Belum lagi apabila e-money tersebut terdapat loyalty program sehingga terkoneksi dengan service produk lain. Misalnya ketika bapak Y ini melakukan perjalanan 10 kali dalam sebulan, maka mendapatkan diskon gratis pada toko sepatu olahraga atau tarif listrik di rumahnya otomatis mendapatkan diskon karena di belakang layar service e-money bank tersebut terhubung dengan PLN. Banyak sekali contoh lainnya penggunaan NFC untuk komputasi dimanapun selain di area financial technology.

(Gambar 3.1 NFC & Everywhere Computing)

Kurang lebih apabila saya gambarkan dalam suatu bagan, hubungan NFC dan everywhere computing adalah seperti gambar di atas. NFC dalam hal ini digunakan sebagai gerbang awal saja untuk mengakses berbagai service. Tentu saja hal ini bisa dikreasikan dan diterapkan untuk industri yang lainnya tidak hanya fintech saja.

Penggunaan di Indonesia dan Potensi Kedepan

Di Negara kita, benda-benda NFC disekitar kita sudah ada. Paling tidak walaupun seorang warga negara Indonesia belum memiliki smartphone ber-NFC, dia wajib memiliki KTP. Kartu tanda penduduk kita tersebut adalah perangkat NFC pasif. Teman saya waktu saya S1 sudah pernah iseng melihat isi data dari KTP, namun data tersebut ternyata sudah dienkripsi. Hal lain adalah e-money flazzcard pada bank BCA yang biasa saya gunakan untuk membayar Tol. Hal ini terbukti ketika kita menggunakan aplikasi m-banking di Android yang sudah memiliki fitur NFC, kita bisa mengetahui saldo flazzcard kita.

Contoh lainnya adalah seperti smartcard hotel atau apartemen. Ketika kita reservasi hotel, beberapa hotel menyediakan kunci atau smartcard. Tentu smartcard ini menggunakan NFC karena pengoperasiannya jarak dekat. Kartu NFC ini memang banyak sekali untuk digunakan sebagai “grant-access” di Indonesia. Jika kita pikir lagi, kartu e-money kita juga digunakan untuk “grant-access”. Sedangkan KTP kita untuk identifikasi.

Langkah yang menarik adalah dari Telkomsel T-Cash. Walaupun secara global smartphone yang menggunakan NFC berjumlah 2 milyar lebih, namun kebanyakan smartphone yang memiliki NFC berada pada pasar menengah ke-atas yang mana tidak terlalu banyak di negara kita yang masih negara berkembang. T-Cash menggunakan passive device, berupa tag. Sehingga smartphone yang belum memiliki NFC dapat merasakan manfaat dari NFC.

(Gambar 4.1 Telkomsel TCASH TAP. Sumber: website Telkomsel)

Telkomsel T-Cash ini juga menggunakan server untuk menyimpan nominal saldo (bukan di dalam tag itu) dan service-nya terhubung dengan core-service perusahaan-perusahaan lain seperti XXI, beberapa gerai restauran sebagai loyalty point. Selain T-Cash, NFC juga pasti sudah familiar digunakan oleh warga Jabodetabek ketika akan bepergian menggunakan Busway ataupun KRL (Kereta Rel Listrik). Walaupun tidak menggunakan smartphone, solusi dari Commuter Line sebagai penyedia layanan KRL ini juga menarik.

Sebagai ibukota dan tentu saja didatangi oleh pendatang silih berganti dari berbagai kota, Commuter Line menyediakan Vending Machine untuk mengeluarkan Kartu NFC sebagai tiket naik kereta. Hal ini memangkas proses waktu pembuatan tiket jika diketik menggunakan tangan, karena jelas mesin akan lebih cepat daripada manusia di tugas yang repetitif. Selain itu kartu ini efektif digunakan sebagai identifikasi penumpang, sehingga tidak ada penumpang nakal yang memalsu tiket atau naik kereta tanpa tiket.

Kartu NFC tersebut akan dikembalikan di vending machine juga apabila sudah tidak digunakan lagi. Apabila tidak dikembalikan maka saldo di dalamnya hangus. Hal ini cocok bagi orang seperti saya yang tidak menetap di Jakarta dan mengurangi sampah plastik apabila kartu NFC ini dibuang sembarangan.

Tentunya masih banyak sekali industri yang dapat memanfaatkan teknologi NFC ini dan saya optimis peluang berkreasi serta peluang bisnis-nya masih terbuka sangat lebar.

Potensi kedepan NFC seiring bertambahnya perangkat aktif ber-NFC seperti smartphone ataupun perangkat wearables akan lebih cerah.  Tidak hanya menggantikan sebuah QR Code atau Bar Code, walaupun niatnya baik untuk mengganti media kertas dan yang lain namun manfaatnya belum maksimal. Karena kecepatan akses saja yang diuntungkan oleh user.

Saya lebih suka membayangkan potensi NFC ke depan sebagai Virtual Button. Mari kita lihat industri yang sudah ada dan coba menambahkan NFC untuk service mereka. Go-Jek sekarang memiliki apps yang ukurannya 146MB. Biaya untuk akuisisi user agar mengunduh aplikasi sangat mahal sekarang, membutuhkan milyaran rupiah. Sedangkan user sendiri cenderung malas mendownload aplikasi. Solusinya menurut saya adalah membuat perangkat NFC aktif di beberapa titik seperti pintu masuk mall, sekolah, dll. User tidak perlu download aplikasi, tinggal tap saja perangkat wearable/smartphone-nya ke perangkat, lalu muncul halaman web atau instant apps, user tinggal memasukkan tujuan perginya.

Atau mungkin industri iklan, ini yang sering kita jumpai contohnya sejak bertahun-tahun lalu. di beberapa gedung perkantoran di Surabaya saya pernah menemui banner iklan digital di dekat pintu lift-nya. Yang menjadi masalah adalah dalam 1 menit waktu tunggu tersebut ada banyak iklan. Saya pernah tertarik dengan iklannya namun memasukkan url yang panjang tentu sangat melelahkan. QR code jg iklan-nya tidak lama. Maka NFC tentu saja sangat membantu, kita tinggal tap pada area NFC banner iklannya. Lalu muncul halaman checkout, barang langsung diantar.

Hal lainnya seperti sepeda motor. Motor modern sekarang menggunakan ECU digital, tidak lagi menggunakan perangkat-perangkat analog. Namun ketika terjadi kerusakan, kita tidak tau part mana yang rusak. Perlu ke bengkel resmi untuk memeriksanya. Bengkel resmi memiliki alat diagnostic toolnya sendiri. Proses ini tentu bisa disingkat jika ECU memiliki NFC karena ketika kerusakan kebanyakan aki masih hidup. Pengguna tinggal tap ke ECU motornya, lalu mengetahui hal apa yang menyebabkan kerusakan. Data tersebut dikirimkan ke server produsen motor dan langsung bisa menjadwalkan montir yang bisa menangani hal tersebut dan datang ke rumah sekaligus menjadwalkan spare-part nya apabila tidak tersedia di bengkel terdekat. Hal ini bisa menghemat waktu, biaya ke bengkel, waktu tunggu, bahkan kita tidak perlu membangun bengkel karena montirnya bisa datang ke rumah.

Saya terbayang juga restauran tanpa pegawai manusia, digantikan robot. Jadi user tinggal datang ke dalam restauran, meja restauran tersebut merupakan perangkat aktif NFC, user tinggal tap menggunakan smartphone/smartwatch di meja tersebut lalu menu akan muncul. Menu yang berbeda-beda tiap hari atau bulan-nya akan keluar tergantung bagaimana sistem mengoptimisasinya sesuai KPI perusahaan. User tinggal tap, lalu otomatis terbeli. Robot akan menghangatkan makanan apabila makanan sudah jadi terebih dahulu atau memasaknya. User mengambil sendiri makanannya ditempat yang ditentukan. Ketika selesai makan, masukkan ke tempat pengumpulan piring yang sudah ditentukan untuk dicuci oleh robot kembali. Sistem restauran tersebut terhubung dengan servis perusahaan supply chain makanan lain untuk memesan sendiri bahan baku yang dibutuhkan.

Banyak contoh lainnya namun dari segi gambaran besar tersebut, perlu kerjasama yang baik antara banyak pihak dan berbagai pemegang keputusan agar teknologi ini dapat digunakan semakin luas. Sekian makalah ini saya buat, tentu saja makalah ini belumlah sempurna dan membutuhkan kritik atau saran dari berbagai pihak untuk ilmu pengetahuan bersama.

kamu di halaman ini selama .