/ #cerita #diy 

Desain+er atau Desain dan Desainer

Tulisan ini cuma cerita berdasarkan pengalaman barusan. Sebenarnya jg bingung mau kasih judul apa, hehe. Background saya teknik, jadi sudah bs ditebak kalo rating saya dalam desain itu 210. paling pol 510 deh wkwk. Langsung ke cerita kalo saya ingin membuat kek semacem plakat gt buat suatu acara.

Langsung saya sketch di kertas lalu saya bikinin 3D-nya dengan ukuran sekian-sekian-sekian seperti gambar dibawah ini :

image

image

Bagaimana bentuknya? Merasa ada yg salah? tidak juga rasanya. Terlihat fine-fine saja. Lalu datanglah meteor coklat ke ladang gandum setelah saya coba bikin pakai mesin CNC ternyata gagal total wkwk. 

Hasilnya Jauh dari apa yg terlihat di gambar 3D diatas. bisa dilihat di bawah ini :

image

Sekarang bagaimana bentuk benda dunia nyatanya? coba utarakan dengan feeling kalian? kurang sip kan ya? semacam “ewww” gt.

Setelah membuat sendiri 3D nya dan saya cetak lalu saya pegang sendiri benda yg saya desain baru kerasa. “oh iya, gak bagus ya. oh iya materialnya seharusnya jgn akrilik bening, wah kok terlihat murah ya? seharusnya sambungannya jgn gini dll dll”.

Masalah yg seperti ini bs terselesaikan lbh awal oleh orang yg ahli di industrial design, kan menurut bukunya Donald A. Norman desain ada 3 tuh. industrial design, interaction design dan experience design. Nah bagian yg industrial design berfokus ke bentuk, cara membentuk dan material.

Desainer produk industri pasti punya cara pandang yg lbh baik untuk membuat produk. Yang biasanya miss kan kalo si abang A bs makai software buat nggambar X berarti dia bs desain. Padahal ya salah total, software itu cuma dibuat untuk mempercepat pekerjaan desainer biar lebih cepat selesai. Sama aja kyk ke Ngagel pakai jalan kaki vs naik motor. cepetan naik motor. tapi naik motor jg bs salah kalo ke Ngagel pakai ke SIngosari dulu (?)

Lalu bagaimana desain yg bagus seharusnya? terjawab di buku The Design of Everyday Things di kata pengantarnya :

“Good design is actually a lot harder to notice than poor design, in part because good designs fit our needs so well that the design is invisible, serving us without drawing attention to itself. Bad design, on the other hand, screams out its inadequacies, making itself very noticeable.” ,“Donald A”. Norman

Gt lah pokonya.  Dunia tidak cuma butuh desain. Tapi  jg desainer beneran. Desain tanpa desainer itu kyk air laut tanpa garem.